News

10 Tahun Mendatang PLTU Batubara Berkurang, Tapi Masih Dominan

Jakarta, 16 Agustus 2019, pelakubisnis.com  – Kontribusi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batubara  saat ini mencapai 60% dari total kapasita listrik terpasang pembangkit yang ada di Indonesia. Angka tersebut 10 tahun mendatang menurun menjadi 54%. Angka itu tetap masih dominan yang menjadi tantangan kita bersama.

Demikian kesimpulan yang ditangkap pelakubisnis.com dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk The Feature and Disadvantages of Ultra Supercritical  (USC) Coal  Fired Steam Power Plant , yang diselengkarakan oleh Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) bekerjasama dengan Himpunan Ahli Pembangkit Tenaga Listrik Indonesia (HAKIT), pada 15/8, di Jakarta.

Hadir sebagai pembicara perwakilan dari  Siemans, General Electrics, Mitsubishi, IPP (Adaro Power), PLN, Dr. Halim Abdurochim (ITB) dan Prof.Dr.Ing.Ir. DEA, Priyono Sutikno.

Menurut Hendrik dari PT Adaro Power, sumbangan CO2  dari PLTU  batubara  menjadi kepedulian masyarakat dunia.  Negara-negara maju berusaha menekan suhu bumi sampai di bawah 2 drajat Celsius . “Resources batubara yang sangat besar dan masih mempunyai potensi dikembangkan sebagai pembangkit mulut tambang,” katanya

Peneliti Energi Terbarukan dari ITB, Priyono Sutikno mengatakan sampai tahun 2050 batubara masih digunakan. Walaupun ada teknologi yang mampu mengurangan CO2 dari pembangkit batubara, seperti Carbon Capture and Storage (CCS). Tapi biaya penggunaan teknologi tersebut sangat mahal, sehingga belum ekonomis  diterapkan di Indonesia.

Sementara bila mengembangan energi terbarukan secara massif, kata Priyono, terkendala pada energy storage yang juga dinilai mahal. Padahal PLTU-PLTU yang lama di Jerman, dirubah menjadi energy storage. “Seharusnya Indonesia bisa meniru Jerman dan kita harus belajar dari Jerman,” katanya kepada pelakubisnis.com.

Di samping itu, kata Priyono, teknologi USC pun dapat menekan emisi  gas buang. “Pembangkit  yang menggunakan teknologi USC bisa efisiensi mencapai 48%,” ujarnya seraya menambahkan dengan menggunakan  USC, maka emisi gas buang (CO2) yang dihasilkan juga bisa  lebih kecil 10%. Artinya dengan efisiensinya menaik, maka kontribusi CO2-nya pun menurun.

Priyono mengatakan, sebetulnya keberadaan hutan  bisa menghisap CO2. Sayangnya hutan kita semakin lama semakin berkurang. Sampai saat ini belum ada kebijakan yang mengatur bahwa setiap pembangunan pembangkit listrik berbasis batubara  harus melakukan rehabilisasi hutan dalam jumlah tertentu. “Saya kira yang lebih penting adalah koordinasi lintas sektor mengatasi masalah ini,” katanya serius.

FGD itu merupakan rangkaian kegiatan Hari Listrik Nasional 74 (HLN74). Di mana puncak acaranya akan berlangsung pada 9 -11 Oktober di Jakarta Convention Centre, dalam perhelatan Exhibition and Conference bertajuk Facing The Challenges of Industry 4.0 Era of Electrical  Power Technology.